Hantu Itu Bernama HIV/AIDS
Ada penampakan yang lebih menyeramkan ketimbang ketemu kuntilanak atau pocong, hantu yang satu ini lebih bebas bergentayangan dan merasuk ke tubuh secara perlahan tapi pasti. ”Hantu” itu bernama virus HIV/AIDS.
Virus HIV/AIDS ketika sudah berjangkit dalam diri seseorang memang tidak akan secara langsung menunjukkan gejaka-gejala sakit. Namun secara perlahan dia akan merusak sistem kekebalan tubuh penderitanya hingga nantinya akan berakibat pada kematian penderita.
Namun sayangnya ”hantu” ini tidak diwaspadai dengan baik. Upaya yang dilakukan untuk ”menangkapnya” pun tidak dilakukan dengan tepat, bukannya memberantas tapi malah menjadikannya bebas bergentayangan.
Setiap tanggal 1 Desember dijadikan sebagai hari peringatan penanggulangan HIV/AIDS internasional. Biasanya dilakukan sosialisasi tentang bahaya penyakit ini dan paling dramatis kemudian adalah aksi pembagian kondom secara gratis di jalanan. Dikatakan kalau kondom bisa menjadi alat untuk menangkap virus HIV/AIDS yang efektif.
Opo yo bener? Mengingat secara faktual kondom terbuat dari bahan dasar latex (karet) yang berpori-pori. Dan dengan menggunakan mikroskop elektron, terlihat bahwa pori-pori kondom berukuran 700 kali lebih besar dari ukuran HIV-1 sehingga virus tetap bisa masuk.
Nach, masihkah kondom akan dikampanyekan sebagai alat pencegahan penyebaran HIV/AIDS? Tentu saatnya bagi kita untuk menolak kampanye kondom sebagai pencegah masuknya virus.
Karena kondom kemudian banyak disalahgunakan dan memunculkan perilaku seks bebas, berhubungan seksual di luar nikah serta bukan dengan pasangan yang sah. Yang akhirnya merebaklah aktivitas perzinahan di Negeri ini, Naudzbillah
Seharusnya pemerintah lebih jeli melihat akar masalah ini. Perzinaan adalah sarana penularan yang paling utama. Jika akarnya sudah diberantas, maka tidak akan tumbuh batang, ranting ataupun daun. Semoga hantu virus HIV/AIDS mampu segera diberantas dengan solusi tuntas.
***
Selamatkan Banyumas dari HIV
Sebuah data mengejutkan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah terkait pengidap HIV dan AIDS di Jawa Tengah, pada tahun 2008. Kota Semarang menduduki peringkat terbanyak dengan jumlah kasus 175 pengidap AIDS, Banyumas 64 kasus dan Jepara 63 kasus. Kenapa Banyumas bisa menduduki peringkat kedua terbanyak?
Mengingat Banyumas hanyalah kota kecil, yang jauh dari gemerlapnya dunia metropolitan, ditambah lagi Banyumas juga merupakan daerah yang begitu kental memegang nilai-nilai budaya luhur, yaitu budaya banyumasan.
Penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit mematikan yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Penularan penyakit ini melalui berbagai cara, kasus terbanyak penyebab tertularnya HIV/AIDS ini adalah karena hubungan seks bebas dengan bergonta-ganti pasangan, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, penularan karena keturunan dan lain sebagainya. Penyebab utamanya jelas karena seks bebas.
Terkait banyaknya jumlah penderita AIDS di Banyumas membuat kita berfikir, sejauh mana perkembangan pergaulan di kalangan muda-mudi di wilayah Banyumas. Ada hal yang kemudian menjadi korelasi, ketika melihat bagaimana kondisi pergaulan di tengah para muda-mudi yang ada di wilayah ini.
Pergaulan dan seks bebas ternyata juga marak dilakukan oleh kawula muda, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa. Termasuk kehidupan di sekitar tempat wisata Baturaden. Disinyalir tempat wisata ini menjadi pusat seks bebas. Di samping tingginya tingkat seks bebas, pengguna narkoba pun ternyata tinggi.
Solusi yang tepat untuk membebaskan Banyumas dari HIV/AIDS adalah dengan satu hal kembali pada syariah (aturan-aturan) dari Allah SWT, dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah niscaya kita akan terhindar perbuatan maksiat.
Virus HIV/AIDS ketika sudah berjangkit dalam diri seseorang memang tidak akan secara langsung menunjukkan gejaka-gejala sakit. Namun secara perlahan dia akan merusak sistem kekebalan tubuh penderitanya hingga nantinya akan berakibat pada kematian penderita.
Namun sayangnya ”hantu” ini tidak diwaspadai dengan baik. Upaya yang dilakukan untuk ”menangkapnya” pun tidak dilakukan dengan tepat, bukannya memberantas tapi malah menjadikannya bebas bergentayangan.
Setiap tanggal 1 Desember dijadikan sebagai hari peringatan penanggulangan HIV/AIDS internasional. Biasanya dilakukan sosialisasi tentang bahaya penyakit ini dan paling dramatis kemudian adalah aksi pembagian kondom secara gratis di jalanan. Dikatakan kalau kondom bisa menjadi alat untuk menangkap virus HIV/AIDS yang efektif.
Opo yo bener? Mengingat secara faktual kondom terbuat dari bahan dasar latex (karet) yang berpori-pori. Dan dengan menggunakan mikroskop elektron, terlihat bahwa pori-pori kondom berukuran 700 kali lebih besar dari ukuran HIV-1 sehingga virus tetap bisa masuk.
Nach, masihkah kondom akan dikampanyekan sebagai alat pencegahan penyebaran HIV/AIDS? Tentu saatnya bagi kita untuk menolak kampanye kondom sebagai pencegah masuknya virus.
Karena kondom kemudian banyak disalahgunakan dan memunculkan perilaku seks bebas, berhubungan seksual di luar nikah serta bukan dengan pasangan yang sah. Yang akhirnya merebaklah aktivitas perzinahan di Negeri ini, Naudzbillah
Seharusnya pemerintah lebih jeli melihat akar masalah ini. Perzinaan adalah sarana penularan yang paling utama. Jika akarnya sudah diberantas, maka tidak akan tumbuh batang, ranting ataupun daun. Semoga hantu virus HIV/AIDS mampu segera diberantas dengan solusi tuntas.
***
Selamatkan Banyumas dari HIV
Sebuah data mengejutkan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah terkait pengidap HIV dan AIDS di Jawa Tengah, pada tahun 2008. Kota Semarang menduduki peringkat terbanyak dengan jumlah kasus 175 pengidap AIDS, Banyumas 64 kasus dan Jepara 63 kasus. Kenapa Banyumas bisa menduduki peringkat kedua terbanyak?
Mengingat Banyumas hanyalah kota kecil, yang jauh dari gemerlapnya dunia metropolitan, ditambah lagi Banyumas juga merupakan daerah yang begitu kental memegang nilai-nilai budaya luhur, yaitu budaya banyumasan.
Penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit mematikan yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Penularan penyakit ini melalui berbagai cara, kasus terbanyak penyebab tertularnya HIV/AIDS ini adalah karena hubungan seks bebas dengan bergonta-ganti pasangan, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, penularan karena keturunan dan lain sebagainya. Penyebab utamanya jelas karena seks bebas.
Terkait banyaknya jumlah penderita AIDS di Banyumas membuat kita berfikir, sejauh mana perkembangan pergaulan di kalangan muda-mudi di wilayah Banyumas. Ada hal yang kemudian menjadi korelasi, ketika melihat bagaimana kondisi pergaulan di tengah para muda-mudi yang ada di wilayah ini.
Pergaulan dan seks bebas ternyata juga marak dilakukan oleh kawula muda, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa. Termasuk kehidupan di sekitar tempat wisata Baturaden. Disinyalir tempat wisata ini menjadi pusat seks bebas. Di samping tingginya tingkat seks bebas, pengguna narkoba pun ternyata tinggi.
Solusi yang tepat untuk membebaskan Banyumas dari HIV/AIDS adalah dengan satu hal kembali pada syariah (aturan-aturan) dari Allah SWT, dengan meningkatkan ketakwaan kita pada Allah niscaya kita akan terhindar perbuatan maksiat.